<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Toufansougi&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://toufansougi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://toufansougi.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah catatan..</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 11:09:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='toufansougi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Toufansougi&#039;s Blog</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://toufansougi.wordpress.com/osd.xml" title="Toufansougi&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://toufansougi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bocah-Bocah Pulau, Sebuah Catatan Perjalanan</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/bocah-bocah-pulau-sebuah-catatan-perjalanan/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/bocah-bocah-pulau-sebuah-catatan-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 11:07:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[From Here We Begin and at Al Aqsha We'll Meet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Tarempa, 27 September 2011 Pagi ini aku bersiap melakukan cek fisik dua buah pengadaan penambahan konstruksi ruang kelas. Konstruksi pertama ada di suatu daerah yang bernama Air Asuk. Air Asuk merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Dan yang pasti sesuai dengan bayangan kita, tidak ada listrik, susah air dan seterusnya. Di Air Asuk ini terdapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=163&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tarempa, 27 September 2011<br />
Pagi ini aku bersiap melakukan cek fisik dua buah pengadaan penambahan konstruksi ruang kelas. Konstruksi pertama ada di suatu daerah yang bernama Air Asuk. Air Asuk merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Dan yang pasti sesuai dengan bayangan kita, tidak ada listrik, susah air dan seterusnya.  Di Air Asuk ini terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri, yang bertempat di atas sebuah bukit, nanti kita akan sedikit bagi-bagi cerita disana. Tempat kedua adalah Air Tang, disini juga terdapat sebuah proyek pengadaan yang harus aku cek, sebuah konstruksi penambahan ruang kelas. Air Tang juga merupakan salah satu dari 268 pulau di kepulauan Anambas yang sedikit terluput dari deru pembangunan.</p>
<p>Pukul 08.00, selesai sarapan aku mulai menyusun perlengkapan untuk dibawa cek fisik nanti. Meteran, sigma, papan alas, kontrak, alat tulis dan lain-lain. Tak lupa kumasukkan lifejacket, sungguh benda yang satu ini aku tidak pernah berharap memakainya. Aku merasa cukup nyaman dengan sepatu lars standard kopasus ini, sepatu yang sebenarnya kubeli untuk main airsoftgun ternyata punya manfaat lebih, sepatu ini jadi teman setia dari sekian banyak cek fisik yang sudah kulakukan. Dan aku juga cukup merasa nyaman dengan pakaian outdoor ini, yang lagi-lagi memang pakaian airsoft. Alhamdulillah, banyak dari perlengkapan airsoftgun memberi manfaat lebih untuk pekerjaanku. Tas punggung kapasitas 60 kg lengkap dengan rain coat terisi penuh dengan perlengkapan cek fisik. Yap, aku siap berangkat.</p>
<p>Sesaat sebelum kami berangkat bertiup angin yang cukup kencang, terdengar bunyi gemuruh barang-barang berserakan di luar penginapan. Aku  pergi ke jendela melihat keluar, ternyata angin memang cukup kuat, dahan dahan kayu bergoyang kuat, dan aku mendengar rak piring terbanting. Sempat berpikir perjalanan akan gagal.<br />
Kurang lebih satu jam kami menunggu akhirnya cuaca mulai bersahabat, angin mereda, dan ombak di tepi pantai berangsur tenang walaupun masih berbahaya untuk melakukan perjalanan laut. Kami putuskan berangkat. Dengan sepeda motor aku menuju pelantar (sebuah dermaga kecil) terdekat. Melintasi tebing terjal kami pacu sepeda motor. Beberapa saat akhirnya kami sampai di pelantar. Pemandangan yang mengagumkan, pulau-pulau, lautan, kapal tradisional semuanya mengagumkan, sebuah komposisi sempurna penghibur hati. Buatku keadaan tenang, suasana ramah, dan pemandangan yang alami merupakan salah satu kenikmatan yang luar biasa. Sedikit sekali orang yang mampu merasakan hal ini, dan aku sangat bersyukur mendapat kesempatan seperti ini. </p>
<p>Kemudian aku memarkir motor, aku berjalan ke tepi dermaga. Sambil tersenyum kupandangi gemulai laut yang menawan ini. Aku pandangi kapal-kapal nelayan tradisional yang bersandar, sepertinya mereka baru berlabuh dan menurunkan muatannya. Kurang lebih setengah jam, kapal jemputan kami tiba. Kapal motor speed bertenaga 40 pk dengan kapasitas 6 orang. Kapal tersebut merapat perlahan ke pelantar. Setelah merapat kami turun ke kapal dengan hati-hati, karena tidak ada penghubung antara kapal dan pelantar, jadi kami meloncat begitu saja. Aku dahulukan tas punggung yang sudah dibungkus mantel hujan, kulempar saja ke dalam dari pinggir dermaga. Kemudian aku menyusul dengan sekali lompatan ke punggung kapal, dengan hati-hati aku masuk dan duduk di kursi tengah. </p>
<p>Beberapa saat kemudian kapal mulai melaju perlahan kemudian berangsur meningkatkan kecepatannya. Aku menikmati pemandangan laut dan pulau di kanan kiri, deburan ombak yang menghempas kapal semakin memberi kesan petualangan laut ini akan baru saja dimulai. Sungguh banyak hal yang jarang kita lihat disini, hidup di kota besar yang hiruk pikuk nya di atas deru mesin membuat kita melewatkan banyak hal indah di dunia ini. Aku memandangi lautan biru yang luas ini, kemudian merasa kecil, lemah, tak berdaya. Melihat hal-hal mengagumkan ini seakan menyentil akal kita, tentang sebuah penciptaan yang maha dahsyat, maha agung. Tidak ada yang mampu menjadikan gunung-gunung ini kokoh di laut, menjadikan awan-awan bergerak sesuai aturan kecuali pencipta yang luar biasa agung, Allohurobbul ‘alamin. </p>
<p>Kembali ke perjalanan, kurang lebih satu jam akhirnya kami sampai di suatu perkampungan di pinggir pantai. Di seberang perkampungan di pinggir laut itu ada sebuah pulau kecil yang letaknya agak tinggi. Dari perkampungan ke seberang di hubungkan sebuah jembatan dari timbunan batu. Dan di seberang tersebutlah SDN 003 Air Asuk berada. Segera kami menapaki jalan menuju sekolah tersebut. Disana ada dua ruang kelas, yang satu dipakai dan yang satu sedang dibangun. Dari luar jendela kelas kulihat sebuah kegiatan belajar mengajar, muridnya ada sekitar 15 orang dan sebagian besar putri. Mereka terlihat asing dengan kedatangan kami. Banyak dari mereka yang menolehkan kepalanya ke belakang kelas tempat pintu masuk dimana kami berkumpul. Kemudian aku tersenyum ke arah mereka dan menempelkan telunjuk di bibirku, mengisyaratka agar mereka tetap fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Sebagian dari mereka segera kembali berpaling pada pelajaran, sebagian tetap memandang ke arah kami. Aku memakluminya, itulah anak-anak mereka penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Mereka polos seperti kertas putih, mereka terlahir dengan fitrah yang suci sebagai manusia, orang tua merekalah yang akan membentuk mereka. Terkadang aku miris melihat perlakuan yang tidak selayaknya diberikan kepada anak-anak. Tapi itulah dunia dan dinamikanya, selalu akan datang padamu hal-hal yang tidak bisa kau terima dengan akal sehatmu. Membuatmu harus berpikir dan memilih langkah, berpikir untuk memikirkannya atau bahkan tidak memikirkannya sama sekali.</p>
<p>Singkat kata aku melanjutkan pekerjaanku dengan hati-hati, aku berusaha tetap fokus pada pekerjaanku, tapi aku juga berusaha menjaga hak-hak mereka mendapatkan ilmu, memelihara situasi yang kondusif. Selama bekerja aku terus mendoktrin diriku, bahwa apa yang kukerjakan ini bukan sekedar pelunasan kewajiban atas upah yang terbayar, pekerjaan ini bagian dari masa depan anak-anak yang sedang belajar itu. Pekerjaan ini sedikit banyak bermanfaat untuk menjaga hak-hak mereka. Tanggung jawabku bukan sekedar kepada pimpinan dan instansi, tapi mereka yang di dalam itu. Untuk hak merekalah aku dibayar, untuk mereka aku harus menulis seadil-adilnya, untuk mereka aku harus menekan semua kepenatan dan kelelahan ini. Dan kelak Alloh akan mempertanyakan setiap detik yang kulalui disini. Terus kucamkan itu dalam benakku. Sekitar Empat puluh lima menit kemudian pekerjaan selesai. Aku bergegas menyusun kembali peralatan ke dalam tas, aku menyusunnya di depan ruang kelas di bawah jendela. Sebelum barang-barang kukemasi ternyata kelas sudah usai. Anak-anak secara tertib ke luar ruangan kelas menyalami guru-guru yang ada di depan kelas. Aku sedikit takjub ketika semua dari mereka beriringan menyalamiku. Sederhana, lucu, tapi sangat menghiburku. Kemudian mereka turun menyusuri tebing menuju jembatan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing di kampung seberang. Dari kejauhan kupandangi mereka, kuhela nafas sambil menyimpan senyum untuk diriku sendiri. Mereka mungkin saja jadi generasi penerus yang akan memperbaiki negeri ini dalam hati aku berucap. Segera kuambil handphone dari saku, kuambil gambar momen penting itu.</p>
<p>Perjalanan tahap pertama ini selesai, pekerjaan berikutnya menanti kami di seberang. SDN 002 Air Tang itulah tujuan kami berikutnya. Kami naik perahu motor, kemudian melanjutkan perjalanan. Sekitar dua puluh menit kami sampai di lokasi kedua. Sesampainya disana aku sedikit terkejut, karena melihat sebuah bangunan sekolah di pulau yang lebih terpencil. Kapal kami merapat ke salah satu rumah warga disana. Di pintu rumah nampak seorang lelaki paruh baya yang dengan wajah nya ramah menyambut kedatangan tamu yang tak dikenalnya ini. Kami memohon izin untuk menyandarkan kapal di rumahnya. Sambil tersenyum dia mempersilahkan. Kemudian kami naik ke rumah panggung bapak ini, menuju samping rumah, sekali lagi kami mohon izin menggunakan tempatnya untuk makan siang. Lagi-lagi dia tanpa menanyakan apapun mempersilahkan dengan ramah. Inilah salah satu hal yang membuatku jatuh cinta dengan tempat ini, keramah tamahan penduduknya yang sangat jarang kita jumpai di perkotaan besar padat penduduk. Kamipun menggelar makanan di samping rumah yang berhadapan dengan laut lepas. Makan siang sederhana ini terasa begitu nikmat, dengan lauk ikan tongkol dan bumbu khas Padang kami lahap makanan ini. Setelah selesai makan kami melihat jarum jam dan seakan saling mengingatkan bahwa ini jadwal shalat dzuhur. Kami pun mohon izin menunaikan kewajiban kami sebagai seorang muslim di tempat bapak ini. Alhamdulillah, sejauh ini aku sangat merasakan bahwa sholat ini lah yang terus mengingatkanku tentang statusku sebagai seorang hamba Alloh. Ada perasaan cemas ketika adzan berkumandang sedangkan aku tidak bisa memenuhi panggilan sholat itu secara berjamaah. Bapak pemilik rumah mempersiapkan ruang dan sejadah untuk kami sholat, beliau juga memperkenankan kami menggunakan air untuk berwudhu. Padahal sepanjang pengetahuanku, daerah ini kesulitan air bersih, tapi beliau memperkenankan air simpanannya untuk kami gunakan dalam jumlah banyak. Aku segan untuk masuk ke dalam rumah, jadi aku tetap di luar. Selain itu aku juga masih dalam wudhuku pagi tadi sebelum berangkat. Aku membiasakan diri untuk hal yang satu ini. Kalau-kalau ajalku menjemput tiba-tiba setidaknya, aku menghadap dengan keadaan bersuci. Tak lama kutunggu di luar rumah, seorang ibu memanggilku dari sebelah rumah. Beliau mempersilahkan aku berwudhu dengan air tampungannya di depan rumah. Akupun tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada ibu itu, kemudian aku menggunakan air itu untuk berwudhu. Ada tiga ember ukuran sedang, aku berhati-hati menggunakan air agar tidak terlalu boros tapi juga tetap syar’i. Selesai berwudhu kami menuju ruangan di rumah pertama, kami sholat berjamaah di dalamnya. </p>
<p>Setelah kami solat kami berpamitan untuk melaksanakan tugas kami, mengecek konstruksi penambahan ruang kelas. Menyusuri tanah merah kami berjalan beriringan. Setibanya disana aku meletakkan tas ku dan mengeluarkan peralatan yang digunakan. Tiba-tiba seorang bocah laki-laki menghampiriku. Dia melihatku dari dekat dengan penuh keingintahuaan, lalu aku menyapanya dengan senyuman, dia pun membalas dengan meringis. Dia melihat aktivitasku dengan saksama, dan aku pun mencoba membangun komunikasi dengannya. Kutanya “siapa namanya?”, “Fauzan.” Jawabnya sambil menggigit baju. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku. Fauzan terus saja berlarian di sekitar kami. Kemudian di sela pekerjaan, akupun menanyainya “Fauzan sekolah disini ya?”, “iya” jawabnya. Kemudian aku melontarkan beberapa pertanyaan sederhana sekedar untuk memberinya perhatian. Aku melanjutkan pekerjaanku kembali. Aku sibuk mencatat hasil pekerjaan, dan Fauzan kembali berlari mendekatiku. Akupun kembali bertanya “Fauzan kelas berapa?”, “Tiga” jawabnya pasti. Aku kembali bertanya,”rangking berapa di sekolah?”, Fauzan menggeleng “tak ada ranking.” Akupun mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali bertanya padanya “kalo juara ada?” sambil menggangguk dia menjawab “ada, aku juara umum.” Aku tertawa kecil mendengarnya. Anak-anak yang polos dalam hati kupikir. Dia tidak memamerkan pencapaiannya, dia juga tidak berusaha agar orang lain tahu pencapaian suksesnya, bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa itu adalah sebuah prestasi. Sangat kontradiktif dengan beberapa pejabat yang sering nongol di televisi, dengan rumus-rumus intelektual mereka mencoba memanggil decak kagum rakyat banyak dengan pencapaian yang seringkali diumumkan di media massa, globalisme mungkin menyebut ini” komunikasi politik” tapi aku lebih senang menyederhanakannya menjadi “Pembohongan Politik”, mereka yang lebih senang berjanji pasti lebih banyak mengingkari.<br />
Akupun kembali melanjutkan pekerjaanku. Terus dengan saksama kucatat apa yang menjadi objek pemeriksaanku. Kemudian aku teringat membawa sebatang cokelat di saku jaket. Aku memeriksanya, dan mengeluarkannya. Fauzan dan seorang bocah laki-laki kembali berlarian di sekitarku. Aku memanggilnya dengan isyarat jari. Kemudian aku bertanya, “Itu adikmu?”, “Iya” jawabnya. Aku mengulurkan cokelat ke tangannya. Kurasa cokelat semacam ini jarang ditemui di pulau ini. Mudah-mudahan menghiburnya dalam hatiku berujar. Sambil malu-malu dia mengambil dan mengucapkan terima kasih. Kemudian dia bergegas lari ke adik kecilnya. Dia lari ke adiknya sambil mengacungkan cokelat itu, dan berteriak kegirangan. Pemandangan yang luar biasa untuk ku. Makhluk-makhluk mungil lucu yang selalu penuh dengan keceriaan. Kupandangi dari kejauhan mereka berdua memakan cokelat itu dengan lahap. Si adik malah lebih lucu, dia mengangkat cokelatnya tinggi dan memamerkan ke seseorang yang berdiri di dekatnya. Dia berteriak “makan cokelat, makan cokelat, haha..” Lucu, benar-benar menghibur. Aku pun kembali ke pekerjaanku. Setelah selesai Fauzan datang lagi mendekat. Aku kembali tersenyum dan mengemasi barang-barangku. Meninggalkan tempat yang sederhana ini menuju speed boat yang sudah menunggu. Aku kemudian berpamitan dengan bapak pemilik rumah tadi dan segera menuju tempat duduk di tengah. Muncul dialog imajiner ku dalam perjalanan pulang. Fauzan, cepatlah besar. Mungkin kelak kau menjadi bagian dari pembaharu negeri ini. Kau begitu polos dan penuh keriangan, penuh semangat. Jika kau menjadi presiden jadilah presiden yang meninggalkan politik pencitraan, politik riya. Jika kau jadi aparat penegak hukum, bertindaklah yang adil, dan ketahuilah keadilan itu milik Rabb mu, jadi takutlah padaNya. Negeri ini penuh dengan pengrusakan oleh orang-orang di dalamnya. Orang-orang yang mengambil hak orang lain secara tidak benar. Orang-orang yang mendzalimi orang lain. Orang-orang yang kepalanya terkurung oleh angan-angannya sendiri. Fauzan tetaplah menjadi seorang juara yang polos sebagaimana polosnya ombak yang menyapu tepian laut, lugas dan apa adanya. Fauzan ketika kau besar maka ingatlah bagaimana karang di tepi kampungmu ini memecah megahnya ombak, maka berjanjilah pada dirimu seberapapun besarnya gelombang kehidupan, seberapapun mewahnya godaan, tetaplah pada prinsipmu, lindungilah mereka yang harus dilindungi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=163&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/bocah-bocah-pulau-sebuah-catatan-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amandel Gadis Kecil Penjual Pisang</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/amandel-gadis-kecil-penjual-pisang/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/amandel-gadis-kecil-penjual-pisang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:11:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;..Ai modar aku, ai modar aku.. Jerit si pasien merasa kesakitan, ai modar aku ai modar aku jerit si pasien merasa diremehkan..&#8221; (Ambulan Zig Zag, Iwan Fals) Rasanya lagu ini terngiang-ngiang di kepalaku, malam ini. Berawal dari seorang bapak bersama anak kecil yang menawarkan pisang. Lalu aku bersama seorang teman berhenti menghampirinya, menanyakan berapa harga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=150&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;..Ai modar aku, ai modar aku.. Jerit si pasien merasa kesakitan,<br />
ai modar aku ai modar aku jerit si pasien merasa diremehkan..&#8221; (Ambulan Zig Zag, Iwan Fals)</p>
<p>Rasanya lagu ini terngiang-ngiang di kepalaku, malam ini. Berawal dari seorang bapak bersama anak kecil yang menawarkan pisang. Lalu aku bersama seorang teman berhenti menghampirinya, menanyakan berapa harga pisang itu. Kemudian si bapak menjawab, &#8220;terserah saja dik mau bayar berapa.&#8221; Kami keheranan dan beberapa kali mendesak menanyakan berapa harganya, namun jawaban yang sama masih terlontar dari bibir kering si bapak. Di akhir jawaban si bapak menyelipkan kata-kata &#8220;ini sekedar untuk membeli obat.&#8221; Akupun mulai merasa ingin tahu lebih jauh.</p>
<p>Kemudian aku bertanya lagi &#8220;memangnya sakit apa pak?&#8221; lalu si bapak menjawab, &#8220;ini amandelnya kata dokter harus dioperasi&#8221; sambil memegang rahang sang anak perempuan, dan si anak membuka mulutnya. Akhirnya akupun duduk di sebelah si bapak, di pelataran sebuah mall. Aku tanyakan lagi padanya, sudah berapa lama sakitnya, diapun menjawab &#8220;1 bulan, saya takut dia demam lagi trus step&#8221;, kemudian saya terus berdialog dengannya tentang keadaan anak perempuannya.</p>
<p>kemudian aku bertanya padanya, &#8220;bapak kerja dimana?&#8221;, &#8220;di kebun, ini saya baru pulang&#8221; sambil memperlihatkan tangannya yang penuh dengan luka gores yang masih segar. Kemudian kami berbicara tentang keadaan sehari-hari dia yang cukup memprihatinkan. Dia juga sempat bercerita tentang dua orang anaknya yang tewas saat tsunami. Rasanya aku tak sanggup mendengar cerita bapak renta ini lagi, tapi aku merasa harus ada seseorang yang mendengarkan keluh kesahnya.</p>
<p>Lanjut dia bercerita kisahnya tentang cintanya terhadap gadis mungil buah hatinya ini. Dia pernah ditawari seseorang yang mau mengasuh anaknya, &#8220;tapi saya tak mau menyerahkan anak ini, saya khawatir dia disuruh menjadi pengemis&#8221;</p>
<p>Kemudian dia melanjutkan ceritanya, &#8220;saya pernah bawa dia ke rumah sakit, kemudian pihak rumah sakit menyuruh saya membuat surat keterangan miskin dengan membubuhkan tanda tangan walikota.&#8221; Aku terkejut mendengarnya, setahuku surat keterangan miskin untuk berobat tidak harus sampai meminta tanda tangan walikota. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, &#8220;Kemudian saya datangi kantor walikota, saya bertemu polisi penjaganya, dia mengatakan pak Wali sedang tidak bisa diganggu. Dia menyuruh saya datang lagi besok.&#8221; kemudian si bapak ini mengulang usahanya menemui lagi pak Wali sesuai dengan saran si penjaga. Dan kali ini si penjaga menanyakan apakah si bapak sudah punya janji atau belum. Polos saja bapak tua ini mengatakan &#8220;belum&#8221;. Dan pastilah kita tahu bagaimana kelanjutannya. Dia bercerita padaku &#8220;Saya datang gak minta uang, saya cuma mau minta tanda tangan, atau kalau perlu biar anak saya ini ditahan pak Wali sampai saya bisa melunasi pembayaran dengan rumah sakit, mungkin saya akan pulang kampung, dan menjual apa yang bisa saya jual untuk menebus dia asal anak saya sembuh.&#8221;</p>
<p>Malam makin larut kerumunan orang yang menunggu mobil jemputan di pelataran parkir mall makin banyak, tak sedikit dari mereka yang memperhatikan kami. kemudian saya menanyakan alamat, atau nomor telepon yang bisa dihubungi. Tapi bapak itu menjawab bahwa dia tidak punya telepon, dan alamat rumahnya pun tidak ada karena jauh dari pusat kota. Akhirnya aku meninggalkan nomor handphone aku minta bapak ini menghubungiku minggu depan. Kemudian aku menanyakan apa dia bisa menghubungiku, lalu dia menjawab &#8220;nanti saya minta tolong seorang teman, saya biasa kalau pusing minum kopi bersamanya&#8221; aku tambahkan &#8220;asal bapak ga mabuk-mabukan aja&#8221; dia memotong kalimatku dengan jawaban &#8220;Allohuakbar, tak boleh lah&#8221; sambil memegang peci lusuhnya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.</p>
<p>Sebelum aku pergi si anak menunjuk ke sebuah toko makanan di belakang, ternyata dia berisyarat minta dibelikan nasi, kemudian si bapak menyerahkan gumpalan lusuh uang kertas. Kemudian si anak bergegas ke toko. Keluar toko dengan membawa bungkusan, si anak duduk lagi di samping bapaknya hendak membuka makanannya. Tapi si bapak melarangnya, &#8220;Jangan makan disini, kita bukan pengemis, kita bukan gelandangan, bapak malu.&#8221; Rupanya bapak ini berkeras dengan dirinya tak mau dianggap pengemis, walaupun penampilan mereka mengatakan lain.</p>
<p>Sebelum meninggalkan mereka aku memegang pipi si anak yang ternyata memang agak demam. Kemudian aku menanyakan namanya, dan bapak itu mengucapkan terima kasih pada kami.</p>
<p>Memang tak sepatutnya dengan hal ini kita mencerca seorang pemimpin atau sekelompok orang berkuasa, ini bukan alasan yang tepat untuk menggunjing seseorang, tapi terlintas di benakku. Kisah seorang pemimpin umat yang namanya menggetarkan Kisra dan Romawi. Umar bin Khattab radhiallohuanha, saat seorang yahudi datang menuntut keadilan karena gubuknya digusur untuk sebuah pembangunan masjid. ketika si yahudi bertanya &#8220;aina Umar amirul mukminin?&#8221; (&#8220;diamanakah Umar sang pemimpin itu?&#8221;) ternyata beliau sedang tertidur di bawah sebuah pohon. Sangat mudah ditemui, sangat dekat dengan rakyat. Ketika yahudi itu menuntut keadilan dari beliau, Umar mengambil sepotong tulang lalu dengan pedangnya dibuatlah sebuah garis lurus di tulang itu, kemudian Umar menyuruh yahudi itu menyampaikannya ke gubernur yang bertanggungjawab atas penggusuran rumah yahudi itu. Dan akhirnya tempat tinggal yahudi selamat dari penggusuran.</p>
<p>Semoga tangan-tangan di atas itu cepat mengulurkan bantuannya pada kami, dan sesegera mungkin kami bantu bapak dengan gadisnya ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=150&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/amandel-gadis-kecil-penjual-pisang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>What Is A Team?</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/what-is-a-team/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/what-is-a-team/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:09:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[My brother -fakallohu asroh- said : &#8220;in a teamwork, there is no boss, there is no slave. Everybody has a same vision&#8221; What a magnificient words. Tak ada seseorang yang akan mengucapkan kata-kata ini kecuali telah tertempa jiwa dan raganya dengan tempaan yang keras. Sering kali kata-katanya membekas kuat di benakku. Bukan sekedar kata-kata penghibur, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=147&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>My brother -fakallohu asroh- said : &#8220;in a teamwork, there is no boss, there is no slave. Everybody has a same vision&#8221;</p>
<p>What a magnificient words. Tak ada seseorang yang akan mengucapkan kata-kata ini kecuali telah tertempa jiwa dan raganya dengan tempaan yang keras.</p>
<p>Sering kali kata-katanya membekas kuat di benakku. Bukan sekedar kata-kata penghibur, serupa seruan el Subcomandante Marcos dari lembah Lancadon &#8220;kata-kata adalah senjata&#8221;. Serupa telunjuk Sayyid Quthb yang memecah bongkahan kekufuran rezim. Serupa magasin Letnan Islambouli di hadapan Anwar Sadat.</p>
<p>Abangku dan orang-orang semacamnya adalah yang dibutuhkan negeri ini. Sayang kebodohan telah menutupi mata banyak orang. Beliau dipasung dengan pasungan khianat yang keji.</p>
<p>I want u to lead a team, estabilishing a reform of rule, stopping the destruction on this earth. I want ur team struggling.</p>
<p>I wanna be the team.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=147&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/what-is-a-team/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mushaff Biru dari Pamanku</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/mushaff-biru-dari-pamanku/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/mushaff-biru-dari-pamanku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang tidak pernah berubah sejak 5 tahun yang lalu, setiap ramadhan. Sebuah benda yang setia menemaniku, yaitu sebuah mushaf kecil bersampul biru cetakkan Mekkah. Mushaf ini pemberian pamanku (semoga Alloh menjaganya dan keluarganya). Banyak pengalaman berkesan dengan mushaf ini. Yang paling berkesan adalah bagaimana aku mendapatkannya. Tahun 2005 aku masuk kuliah untuk kali pertama. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=145&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang tidak pernah berubah sejak 5 tahun yang lalu, setiap ramadhan. Sebuah benda yang setia menemaniku, yaitu sebuah mushaf kecil bersampul biru cetakkan Mekkah. Mushaf ini pemberian pamanku (semoga Alloh menjaganya dan keluarganya).</p>
<p>Banyak pengalaman berkesan dengan mushaf ini. Yang paling berkesan adalah bagaimana aku mendapatkannya. Tahun 2005 aku masuk kuliah untuk kali pertama. Di kampus tersebut banyak kulihat mahasiswa yg selalu membawa mushaff kecil di saku dadanya, sering kali mereka membacanya di saat senggang. Aku iri melihatnya, betapa mereka adalah pemuda2 yg selalu dekat dengan quran.</p>
<p>Untuk ukuran mahasiswa harga mushaff kecil tergolong mahal kisaran Rp 30.000- Rp 50.000 Saat kuliah aku tidak bisa menyisihkan uang sebanyak itu. Ya sudah, aku berdoa saja, aku mohon pd Alloh dengan bahasa yg sederhana.</p>
<p>Suatu saat pamanku ,-bisa kubilang beliau yang paling perhatian saat aku kuliah- mengundangku ke rumahnya. Jarak kos dengan rumah beliau sekitar 3 jam perjalanan. Beliau memang sering mengundangku ke rumahnya sekedar untuk berakhir pekan, walau terkadang aku sungkan. Kemudian usai dzuhur aku duduk2 di mushola rumahnya. Kemudian dia datang membawa sebuah mushaf kecil dgn sampul berwarna biru tua. Di halaman pertamanya tertulis tangan &#8220;MEKKAH, 25 Januari 2005, 15 Zulhijah 1426&#8243; dia memberinya untukku. Bukan main aku senangnya, sempat terharu karena merasa begitu cepat Alloh menjawab doa hambanya.</p>
<p>Akhirnya mushaf itu jadi salah satu benda yg paling kusayangi. Saat kuliah hampir setiap berpergian aku membawanya, kubaca walaupun dengan bacaan yg terbata2. Suatu hari aku ikut aksi di depan kedubes Denmark, mengutuk karikatur Rosululloh, aku menutup wajahku dengan kain hitam, dan aku membawa spanduk bertulis &#8220;Hukum Mati Penghina Nabi&#8221;, sambil kuacungkan mushaff yang terbuka persis di surat al anfaal, lucunya aksiku itu mengundang beberapa media asing yang langsung menyorot ke wajahku, lalu seorang asing paruh baya mendatangiku bertanya apa yg kubawa itu kujawab, &#8220;This is our holly book, we ready to die for this book!&#8221;. Kemudian akhirnya aksiku diikuti beberapa demonstran yg melihatnya, mereka mengikat kain hitam di separuh wajah mereka. :&#8217;)</p>
<p>Terlintas di benakku, jika suatu saat aku mati aku mau mushaff ini ada di dadaku.</p>
<p>Semoga ramadhan ini jadi momentum untuk kita semua agar lebih dekat dengan quran, lebih menghormati kerabat kita terutama yg lebih tua, islam mewajibkan kita mencintai orang-orang yang dicintai orang tua kita, lihat bagaimana rosululloh menghadiahkan sorbannya ke seorang Baduy hanya karena orang tersebut sahabat orang tua dari Rosululloh. Seorang pemuda muslim sudah sepatutnya bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim dan keras terhadap kafir.</p>
<p>Batam, 2 ramadhan 1432 </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=145&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/mushaff-biru-dari-pamanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Lampu Merah</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/di-lampu-merah/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/di-lampu-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu pukul 22.30 wib aku pulang kuliah. Sedikit agak bad mood karena lelah, setelah semalaman lembur, kerja di kantor yang menumpuk, dan ada sedikit masalah di administrasi perkuliahan. Menembus malam yang sunyi dengan motor kesayangan itu salah satu cara terbaik mengusir penat. Rasanya seperti memaknai kesendirian kita sebagai manusia lebih dalam. Sampai di sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=143&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu pukul 22.30 wib aku pulang kuliah. Sedikit agak bad mood karena lelah, setelah semalaman lembur, kerja di kantor yang menumpuk, dan ada sedikit masalah di administrasi perkuliahan.</p>
<p>Menembus malam yang sunyi dengan motor kesayangan itu salah satu cara terbaik mengusir penat. Rasanya seperti memaknai kesendirian kita sebagai manusia lebih dalam.</p>
<p>Sampai di sebuah perempatan lampu merah aku harus berhenti dan menunggu lampu hijau menyala. Tiba-tiba seorang anak penjual koran mendekatiku. Kupikir dia menawarkan koran seperti biasa kita lihat. Tapi setelah kudengar ternyata dia minta izin ikut sampai lampu merah berikutnya. Lalu kusuruh dia lekas naik. Sepanjang jalan kami ngobrol. Namanya Minggus,asal Ngalor, Nusa Tenggara Timur. Kedua orang tuanya telah tiada. Dia tinggal bersama bibinya yg bekerja sebagai penjaga warung. Dia berjualan koran dari pukul 15.00 sampai larut malam. Dia sekolah di sebuah SMP yang letaknya jauh dari tempat kami bertemu. Dari sebuah koran yang dijual dia bisa mendapat keuntungan Rp400. Uang itu dipakai untuk membayar uang sekolahnya. Sesampainya di tujuan dia turun dan mengucapkan terima kasih padaku. Aku berjanji pada Minggus bahwa akhir pekan aku akan berkunjung ke sekolahnya.</p>
<p>jutaan anak indonesia lainnya bernasib serupa dengan Minggus. Masa kecilnya harus dipertaruhkan di kerasnya hidup jalanan.</p>
<p>Aku jadi makin apatis terhadap demokrasi dan produk-produk turunannya. Kalo bisa kuakulturasikan demokrasi ini adalah ruang deviasi antara kepentingan kaum oportunis dan masyarakat kelas bawah. Demokrasi adalah senjata perusak yang handal dimana nilai kebenaran adalah nisbi. Demokrasi adalah justifikasi pembohongan publik, demokrasi adalah menterorismekan suara keadilan, demokrasi menggilas nurani dengan undang-undang. Seperti kata seorang supir taksi yang harus menjalani proses panjang dan rumit pengadilan sebagai saksi tabrak lari.</p>
<p>Aku tak mau diam. Aku tak akan bisa berdiam diri. Harus ada yang kulakukan. Harus&#8230; </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=143&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/di-lampu-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepertinya Belum</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/sepertinya-belum/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/sepertinya-belum/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Siapa&#8221; itu adalah integral dari &#8220;Apa&#8221;.. dan &#8220;Apa&#8221; adalah bagaimana objektivitas, menempatkan subjektivisme pada konstruksi kebendaan yang tepat. Sampai kau belum mampu menyusun konstruksi hakikat kebendaan yang hidup dan mati. Maka &#8220;siapa&#8221; tidak akan bergeser dari &#8220;apa&#8221;. aku tidak tahu dimana salahnya. aku bosan dengan evaluasi. menunggu guratan pelangi di langit seusai badai itu melelahkan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=141&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Siapa&#8221; itu adalah integral dari &#8220;Apa&#8221;..<br />
dan &#8220;Apa&#8221; adalah bagaimana objektivitas, menempatkan subjektivisme pada konstruksi kebendaan yang tepat.</p>
<p>Sampai kau belum mampu menyusun konstruksi hakikat kebendaan yang hidup dan mati. Maka &#8220;siapa&#8221; tidak akan bergeser dari &#8220;apa&#8221;.</p>
<p>aku tidak tahu dimana salahnya. aku bosan dengan evaluasi.</p>
<p>menunggu guratan pelangi di langit seusai badai itu melelahkan.</p>
<p>&#8220;siapa&#8221; tentang badai, &#8220;apa&#8221; tentang badai, adalah subjektifitas di kala pelangi dinanti.</p>
<p>dedaunan yang gugur menutup luka di bumi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=141&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/sepertinya-belum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suatu Malam</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/suatu-malam/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/suatu-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[kemudian cerita kembali ke sebuah kota dimana cahaya siangnya berkalang jerih dan cahaya malamnya bergelayut sendu. Malam dengan barisan cahaya adalah gerbang dimensi waktu tak berbatas. dimana sekelumit hikayat ditulis. ada hati yang mungkin rindu, tapi terbakarnya hilir kisah mencetak pedih. ada kata-kata yang kehabisan makna sebab manusia tak pernah mengalah. akhirnya barisan bintang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=139&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kemudian cerita kembali ke sebuah kota dimana cahaya siangnya berkalang jerih dan cahaya malamnya bergelayut sendu.<br />
Malam dengan barisan cahaya adalah gerbang dimensi waktu tak berbatas.<br />
dimana sekelumit hikayat ditulis.<br />
ada hati yang mungkin rindu, tapi terbakarnya hilir kisah mencetak pedih.<br />
ada kata-kata yang kehabisan makna sebab manusia tak pernah mengalah.<br />
akhirnya barisan bintang yang diredam cahaya kota menjadi saksi bisu.<br />
tentang argumentasi yang tak mungkin usai.<br />
dan Raja semesta alam berkehendak.<br />
dan penguasa tata surya berkehendak.<br />
Alloh tempat kami mengadu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=139&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/suatu-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Lampu Merah II</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/di-lampu-merah-ii/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/di-lampu-merah-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:03:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Hampir dua minggu lebih sejak pertemuan terakhirku dengan Minggus aku tidak lagi melihatnya di lampu merah kepri Mall yang hampir setiap malam kulewati sepulang kuliah. Setiap aku melewati lampu merah itu aku mencari-cari bocah ikal penjual koran, Minggus. Tapi tadi malam aku nampak sesosok anak di lampu merah perawakannya mirip sekali dengan Minggus. Kurus, hitam, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=137&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir dua minggu lebih sejak pertemuan terakhirku dengan Minggus aku tidak lagi melihatnya di lampu merah kepri Mall yang hampir setiap malam kulewati sepulang kuliah.</p>
<p>Setiap aku melewati lampu merah itu aku mencari-cari bocah ikal penjual koran, Minggus. Tapi tadi malam aku nampak sesosok anak di lampu merah perawakannya mirip sekali dengan Minggus. Kurus, hitam, ikal dan khas seperti saudara-saudara kita dari Timur Indonesia. Dia menawarkan koran kepada beberapa pengemudi mobil seketika lampu merah menyala. Akupun memperhatikannya, lalu kubuka kaca helm ku. Si bocah ternyata peka terhadap gelagatku, dia langsung menghampiriku dan menawarkan korannya. &#8220;Koran, om?&#8221; sapanya cepat. Aku menggeleng, lalu kulanjutkan dengan pertanyaan, &#8220;Minggus?&#8221; kemudian si bocah menggeleng dan sambil tersenyum &#8220;bukan, itu kakak saya.&#8221; Dalam hatiku berujar &#8220;pantas saja kalian mirip&#8221;. Lalu di waktu yang singkat itu aku bertanya tentang keberadaan Minggus. Si bocah menjawab &#8220;Dia di Muka Kuning, jualan disana.&#8221; Aku kemudian mengangguk dan memperhatikan sorot matanya. Bocah ini nampak sangat kelelahan. Matanya sayu, raut wajahnya terlihat menahan kantuk. Tangannya yang kurua nampak kepayahan mengangkat tumpukan koran. Aku terpaku pada hal ini untuk beberapa saat. Ternyata beberapa detik lagi lampu hijau segera menyala, aku menutup pembicaraan itu &#8220;ya sudah, lanjutkan jualannya.&#8221; Kemudian bocah itu tersenyum dan berlalu.</p>
<p>Vitamin hati, kadang berinteraksi dengan saudara kita yang kurang beruntung seperti itu memberi pelajaran agar kita harus selalu bersyukur dengan segala yang kita miliki sekarang. Tatkala manusia-manusia menganggapmu rendah, menyepelekanmu, mengacuhkan, atau menyakiti hatimu maka bicara dengan saudara-saudara kita ini seperti vitamin hati. Vitamin yang memberi suplemen kekuatan kepada kita. Mengingatkan betapa Alloh semesta alam ini begitu menyayangimu pun dengan segala pembangkangan yang kamu lakukan.</p>
<p>love keeps us alive.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=137&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/di-lampu-merah-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara Imajiner Dengan Mumiamarcos</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/wawancara-imajiner-dengan-mumiamarcos/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/wawancara-imajiner-dengan-mumiamarcos/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Repetisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Suatu malam aku pulang dari kantor seperti biasanya, berkawan dengan sekumpulan letih dan jenuh. Dan semua seperti biasa kusimpan dalam dekapan bantal dimuka. Cukup lama aku hanyut dalam larutnya gelisah yang dihantam puing puing ideologis. Tiba tiba sebuah tangan menyapa lengan lemahku. &#8220;Hey kamu, pengkhianat bangun!&#8221; Aku luar biasa tersontak kaget. Sesosok manusia berkulit bersih, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=135&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu malam aku pulang dari kantor seperti biasanya, berkawan dengan sekumpulan letih dan jenuh. Dan semua seperti biasa kusimpan dalam dekapan bantal dimuka. Cukup lama aku hanyut dalam larutnya gelisah yang dihantam puing puing ideologis.</p>
<p>Tiba tiba sebuah tangan menyapa lengan lemahku. &#8220;Hey kamu, pengkhianat bangun!&#8221; Aku luar biasa tersontak kaget. Sesosok manusia berkulit bersih, memakai shirt berkerah warna hitam dengan lambang bintang putih bertulis MORTIR di dada kiri. Org itu bercelana cargo hijau lusuh, memakai topi bertulis kalimat tauhid dan memakai slayer merah seperti dasi di lehernya. Tubuhnya yg kurus tampak jelas di hadapanku.</p>
<p>&#8220;Siapa kau?!&#8221; bentakku. Orang ini diam memandangiku dgn pandangan tajam. &#8220;Siapa? siapa adalah integral apa. Dan apa adalah sebuah kealpaan tentang materi. Sudah berapa hal tentang nyali dan perlawanan yg kau alpakan? Sudah berapa tumpuk ideologi yg kau loakkan di pasar birokrasi? Sudah berapa DERAJAT CELCIUS TERIK JAHANAM JAKARTA yang peti eskan di penjara pemikiran 3 x 3 mu ini, Hah? Sudah berapa tetes keringat yang kau khianati.. sehingga kau lupa, dulu kau iris lambung manusiamu demi sekepal mimpi keadilan?&#8221; dia membentakku sambil menunjuk nunjuk mukaku. Kemudian dia berkata lagi &#8220;Lanjutkan tidurmu, lebih baik kau lelah dalam ketakutanmu, dan biarkan sejarah hanya dikenang sebagai pusara seremonial konyol ttg metode propaganda keadilan.&#8221;</p>
<p>aku terduduk di kasurku sembari menunduk ketakutan. &#8220;k-k-kau Mumia&#8230;?&#8221; Tanyaku lirih&#8230; &#8221; IYA! aku Mumiamarcos Istisyhad. Nama yang kau buat begitu heroiknya Dari Mumia Abu Jamal seorang muslim kulit hitam yang dituduh membunuh polisi amerika, Subcomandante Marcos.. gerilyawan lembah Lancandon, Zapatista Meksiko, istisyhad si pencari kematian syahid. Aku adalah kau 7 tahun yang lalu. Seorang penulis,seorang aktivis, seorang avontir, seorang guru TPA, seorang dengan perangkai ribuan kata cinta yg terpendam dalam akulturasi sosial. Kau kenal? apa kau kenal? yaa! aku adalah kau 7 tahun yg lalu!!!&#8221;</p>
<p>(bersambung..)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=135&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2012/01/24/wawancara-imajiner-dengan-mumiamarcos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pepesan Kosong Perlindungan Buruh Migran Indonesia Hari Ini</title>
		<link>http://toufansougi.wordpress.com/2011/06/30/pepesan-kosong-perlindungan-buruh-migran-indonesia-hari-ini/</link>
		<comments>http://toufansougi.wordpress.com/2011/06/30/pepesan-kosong-perlindungan-buruh-migran-indonesia-hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 08:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Toufan Sougi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://toufansougi.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis oleh Rewang Sudjiwo Rabu, 22 Juni 2011 22:05 Beberapa bulan lalu pemerintah Australia membatalkan pengiriman ekspor sapi-sapi mereka ke Indonesia. Mereka protes karena tempat pemotongan sapi atau tempat penjagalan melakukan tindak kasar pada sapi-sapi yang mereka kirim. Hal ini menurut mereka tidak patut dilakukan kepada binatang. Australia rela kehilangan keuntungan ekspor pasar sapi mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=127&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis oleh Rewang Sudjiwo<br />
Rabu, 22 Juni 2011 22:05</p>
<p>Beberapa bulan lalu pemerintah Australia membatalkan pengiriman ekspor sapi-sapi mereka ke Indonesia. Mereka protes karena tempat pemotongan sapi atau tempat penjagalan melakukan tindak kasar pada sapi-sapi yang mereka kirim. Hal ini menurut mereka tidak patut dilakukan kepada binatang. Australia rela kehilangan keuntungan ekspor pasar sapi mereka demi memberikan penghormatan lebih pada sapi-sapi mereka. Ini sangat berbanding terbalik dengan Pemerintah Indonesia yang tak mampu memberikan perlindungan kepada tenaga kerjanya di luar negeri.</p>
<p>Ironis, absurd. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan permasalahan buruh migran di Indonesia. Begitu banyak masalah yang muncul tapi, tidak ada tindakan konkrit ke arah perbaikan yang signifikan. Pemerintah tidak serius untuk mencari jalan keluar dari 80 persen permasalahan yang timbul pada pra-keberangkatan buruh migran. Lebih-lebih untuk 20 persen permasalahan buruh migran ketika mereka berada di negeri orang. Bagaimana penghargaan pemerintah terhadap para pahlawan devisa ini? Apakah sudah memenuhi harapan para buruh migran jika dilihat dari perspektif perlindungan?</p>
<p>Hampir setiap tahun, kurang lebih tercatat 300 pekerja migran Indonesia meninggal dunia. Yang menyedihkan, dari ke-300 orang yang meninggal tersebut bukan karena kecelakaan saat mereka menjalankan kerja. Sebagian besar mereka justru meninggal karena terbunuh. Sungguh, jika kita bicara masalah ini saja, begitu menyakitkan. Apalagi jika kita merambah ke permasalahan lainnya seperti, penyiksaan, penyekapan, pelecehan seksual, gaji yang tidak dibayarkan, dan banyak sekali kasus yang sangat sulit diungkap ketika bersentuhan dengan ranah privat ini. Bagaimana kita bisa bicara perlindungan sedangkan subjek pelaku sangat sulit dijamah? Bilateral Agreement yang dianggap sebagai solusi sangat sulit diterapkan, karena mainstream pemerintah sudah mengaggap sedari awal bahwa buruh migran adalah ”Komoditi.”</p>
<p>Tengok saja Instruksi Presiden No.6 Tahun 2006 tentang kebijakan reformasi sistem penempatan dan perlindungan TKI, Departemen Tenaga Kerja bekerjasama dengan Departemen Luar Negeri yang akan menambah negara penempatan TKI. Perspektif yang digunakan pemerintah dalam menempatkan Tenaga Kerja mengabaikan hak asasi buruh karena ukuran keberhasilan yang digunakan adalah membuka kerjasama seluas-luasnya yang mengarahkan pada komoditas buruh migran bukan pada peningkatan perlindungan HAM dalam kegiatan migrasi. Tidak dibicarakan strategi perbaikan perlindungan secara nyata bagi buruh migran yang mengalami kekerasan dan eksploitasi. Bahkan dengan bangganya pemerintah hanya ingin mengejar target pengiriman buruh migran ke luar negeri sebanyak 700 ribu orang per tahunnya.</p>
<p>Padahal, berkaca pada tiap tahunnya, pemerintah ”wajib hukumnya” untuk mengkaji ulang permasalahan pengiriman tenaga kerja kita ke luar negeri. Tapi, hal itu sepertinya tidak diindahkan. Dibiarkan saja pelanggaran HAM itu terjadi di tubuh pejuang devisa ini. Pemerintah idealnya mengontrol laju pertumbuhan buruh migran dan meningkatkan kualitasnya dengan pengetahuan dan pendidikan yang memadai. Jangan sampai ratusan ribu buruh yang dikirim menjadi bulan-bulanan di negara orang.</p>
<p>Ketika kita bicara 20 persen permasalahan di negeri orang, ternyata pemerintah belum sanggup mengatasi 80 persen permasalahan pra keberangkatan para buruh migran. Analisa sosialnya sungguh semua terkait dengan permasalahan kondisi bangsa yang sama ruwetnya, sehingga menjadi buruh migran dianggap sebagai solusi jitu untuk hengkang dari masalah yang ada. Padahal, tidak semuanya benar. Coba bayangkan jika pengontrolan terhadap tahapan pengiriman buruh migran tidak dijalankan sesuai prosedur keberangkatan, tentu hal-hal ini akan berdampak pada kondisi setelah keberangkatan.</p>
<p>Sebagai contoh, Titim Fatimah buruh migran asal Cijedil Cianjur, yang meninggal di Riyad Arab Saudi, pada 18 November 1996. Dalam surat terakhirnya ia menulis, bahwa dirinya sering dianiaya majikannya. Selama tujuh bulan bekerja, Titim belum mendapatkan upah. Sedangkan, pihak PJTKI tidak bisa berbuat banyak terhadap kekerasan yang menimpa Titim. Siapa pihak yang dapat bertanggungjawab pada kematian Titim? Apakah benar proses yang dijalani oleh Titim selama di PJTKI? Seperti mendapatkan hak informasi dengan siapa dia bekerja, model pekerjaan seperti apa yang akan dilakukan di negara tujuan, perlindungan hukum apa yang akan dia dapatkan jika majikan melakukan hal-hal yang melanggar hukum? Apa yang dilakukan PJTKI sebelum pemberangkatan Titim? Bagaimana bentuk pengawasan yang dilakukan oleh BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) terhadap PJTKI yang memberangkatkan Titim? Lalu apa yang sudah dilakukan BNP2TKI terhadap kematian yang menimpa Titim Fatimah?</p>
<p>Begitu juga dengan Ruyati, buruh migran asal Bekasi yang dijatuhi hukuman mati 18 Juni lalu. Dimana tanggungjawab negara dalam mengupayakan agar Ruyati tak sampai terpenggal kepalanya?</p>
<p>Memberangkatkan buruh migran bekerja di luar negeri di bawah umur dengan pemalsuan identitas membuat tidak matangnya buruh migran melihat permasalahan yang mereka hadapi di negeri orang. Kurangnya informasi yang didapat, kemampuan bahasa yang terbatas, menjadikan mereka rentan atas pelecehan dan pelanggaran HAM di negara tujuan para pekerja.</p>
<p>Disinilah seharusnya peran negara dituntut lebih. Dari pengawasan dan perlindungan sebelum keberangkatan, hingga keberadaan buruh migran di luar negeri. Bargaining power dengan pemerintah negara tujuan harus mulai diperlihatkan. Dengan tahapan awal, meningkatkan kapasitas diri para buruh migran dibanding dengan buruh migran dari negara luar. Bagaimana mungkin negara luar akan menghormati hak-hak dasar buruh migran Indonesia jikalau pemerintah kita sendiri tidak bisa menghargai jasa para pahlawan devisa ini.</p>
<p>Perjanjian bilateral mustahil ditingkatkan penawarannya jika kualitas buruh migran Indonesia masih sangat rendah. Membuka negara tujuan baru seperti yang dituangkan dalam Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2006, hanya akan menjadi tempat-tempat pembantaian baru bagi buruh migran Indonesia.</p>
<p>Sementara kaum moralis liberal pun hiruk pikuk. Mereka yang hati nuraninya tersentuh ini lalu menuntut segala macam regulasi tambahan, namun tidak pernah mempertanyakan basis sosial dari penindasan terhadap para buruh migran dan bahkan juga terhadap buruh lokal. Para buruh migran tidak bisa menunggu pemerintah untuk melindungi mereka. Para buruh migran juga tidak bisa menunggu LSM-LSM &#8212; yang sejatinya hanya mengejar proyek &#8212; untuk membela mereka. Buruh tanpa organisasinya sendiri hanyalah bahan mentah untuk dieksploitasi. Hampir tidak ada seorangpun para pemerhati dan pengamat politik moralis liberal &#8211; ataupun para pendekar-pendekar LSM &#8212; yang menganjurkan kalau buruh migran ini harus berserikat secara mandiri dan menggunakan metode-metode perjuangan massa. Inilah satu-satunya jalan keluar bagi buruh migran: serikat sebagai alat perjuangan mereka sendiri.</p>
<p>Dengan serikatnya sendiri, buruh migran bisa bersatu dan punya organisasi perjuangan yang mampu menekan pemerintah Indonesia dengan metode-metode kelas pekerja. Selain itu, serikat ini bisa menjadi kekuatan sosial juga di negara-negara tujuan untuk menuntut persamaan hak dan perlindungan, dan bersolidaritas dan bekerja sama dengan serikat-serikat buruh lokal di negara-negara tujuan tersebut. Kita tahu sendiri kalau kehadiran buruh migran di negara-negara tersebut &#8212; yang biasanya gajinya lebih rendah dan kondisi kerja lebih buruk &#8212; adalah juga untuk menekan gaji dan kondisi kerja para buruh lokal. Seyogyanya, buruh migran dan buruh lokal bekerja sama untuk menuntut persamaan hak dan kondisi kerja, dengan demikian mereka tidak mudah diadu domba.</p>
<p>Bukan LSM yang dibutuhkan. Bukan kebaikan hati pemerintah, apalagi majikan, yang diperlukan. Yang dibutuhkan adalah serikat mandiri yang dibangun oleh buruh migran dengan keringatnya sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/toufansougi.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/toufansougi.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=toufansougi.wordpress.com&amp;blog=5546361&amp;post=127&amp;subd=toufansougi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://toufansougi.wordpress.com/2011/06/30/pepesan-kosong-perlindungan-buruh-migran-indonesia-hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fd8bc2998cef62801ac80743deffffe8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ogi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
