jump to navigation

Mushaff Biru dari Pamanku January 24, 2012

Posted by Toufan Sougi in Repetisi.
trackback

Ada yang tidak pernah berubah sejak 5 tahun yang lalu, setiap ramadhan. Sebuah benda yang setia menemaniku, yaitu sebuah mushaf kecil bersampul biru cetakkan Mekkah. Mushaf ini pemberian pamanku (semoga Alloh menjaganya dan keluarganya).

Banyak pengalaman berkesan dengan mushaf ini. Yang paling berkesan adalah bagaimana aku mendapatkannya. Tahun 2005 aku masuk kuliah untuk kali pertama. Di kampus tersebut banyak kulihat mahasiswa yg selalu membawa mushaff kecil di saku dadanya, sering kali mereka membacanya di saat senggang. Aku iri melihatnya, betapa mereka adalah pemuda2 yg selalu dekat dengan quran.

Untuk ukuran mahasiswa harga mushaff kecil tergolong mahal kisaran Rp 30.000- Rp 50.000 Saat kuliah aku tidak bisa menyisihkan uang sebanyak itu. Ya sudah, aku berdoa saja, aku mohon pd Alloh dengan bahasa yg sederhana.

Suatu saat pamanku ,-bisa kubilang beliau yang paling perhatian saat aku kuliah- mengundangku ke rumahnya. Jarak kos dengan rumah beliau sekitar 3 jam perjalanan. Beliau memang sering mengundangku ke rumahnya sekedar untuk berakhir pekan, walau terkadang aku sungkan. Kemudian usai dzuhur aku duduk2 di mushola rumahnya. Kemudian dia datang membawa sebuah mushaf kecil dgn sampul berwarna biru tua. Di halaman pertamanya tertulis tangan “MEKKAH, 25 Januari 2005, 15 Zulhijah 1426″ dia memberinya untukku. Bukan main aku senangnya, sempat terharu karena merasa begitu cepat Alloh menjawab doa hambanya.

Akhirnya mushaf itu jadi salah satu benda yg paling kusayangi. Saat kuliah hampir setiap berpergian aku membawanya, kubaca walaupun dengan bacaan yg terbata2. Suatu hari aku ikut aksi di depan kedubes Denmark, mengutuk karikatur Rosululloh, aku menutup wajahku dengan kain hitam, dan aku membawa spanduk bertulis “Hukum Mati Penghina Nabi”, sambil kuacungkan mushaff yang terbuka persis di surat al anfaal, lucunya aksiku itu mengundang beberapa media asing yang langsung menyorot ke wajahku, lalu seorang asing paruh baya mendatangiku bertanya apa yg kubawa itu kujawab, “This is our holly book, we ready to die for this book!”. Kemudian akhirnya aksiku diikuti beberapa demonstran yg melihatnya, mereka mengikat kain hitam di separuh wajah mereka. :’)

Terlintas di benakku, jika suatu saat aku mati aku mau mushaff ini ada di dadaku.

Semoga ramadhan ini jadi momentum untuk kita semua agar lebih dekat dengan quran, lebih menghormati kerabat kita terutama yg lebih tua, islam mewajibkan kita mencintai orang-orang yang dicintai orang tua kita, lihat bagaimana rosululloh menghadiahkan sorbannya ke seorang Baduy hanya karena orang tersebut sahabat orang tua dari Rosululloh. Seorang pemuda muslim sudah sepatutnya bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim dan keras terhadap kafir.

Batam, 2 ramadhan 1432

Advertisement

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.