jump to navigation

Di Lampu Merah January 24, 2012

Posted by Toufan Sougi in Repetisi.
trackback

Malam itu pukul 22.30 wib aku pulang kuliah. Sedikit agak bad mood karena lelah, setelah semalaman lembur, kerja di kantor yang menumpuk, dan ada sedikit masalah di administrasi perkuliahan.

Menembus malam yang sunyi dengan motor kesayangan itu salah satu cara terbaik mengusir penat. Rasanya seperti memaknai kesendirian kita sebagai manusia lebih dalam.

Sampai di sebuah perempatan lampu merah aku harus berhenti dan menunggu lampu hijau menyala. Tiba-tiba seorang anak penjual koran mendekatiku. Kupikir dia menawarkan koran seperti biasa kita lihat. Tapi setelah kudengar ternyata dia minta izin ikut sampai lampu merah berikutnya. Lalu kusuruh dia lekas naik. Sepanjang jalan kami ngobrol. Namanya Minggus,asal Ngalor, Nusa Tenggara Timur. Kedua orang tuanya telah tiada. Dia tinggal bersama bibinya yg bekerja sebagai penjaga warung. Dia berjualan koran dari pukul 15.00 sampai larut malam. Dia sekolah di sebuah SMP yang letaknya jauh dari tempat kami bertemu. Dari sebuah koran yang dijual dia bisa mendapat keuntungan Rp400. Uang itu dipakai untuk membayar uang sekolahnya. Sesampainya di tujuan dia turun dan mengucapkan terima kasih padaku. Aku berjanji pada Minggus bahwa akhir pekan aku akan berkunjung ke sekolahnya.

jutaan anak indonesia lainnya bernasib serupa dengan Minggus. Masa kecilnya harus dipertaruhkan di kerasnya hidup jalanan.

Aku jadi makin apatis terhadap demokrasi dan produk-produk turunannya. Kalo bisa kuakulturasikan demokrasi ini adalah ruang deviasi antara kepentingan kaum oportunis dan masyarakat kelas bawah. Demokrasi adalah senjata perusak yang handal dimana nilai kebenaran adalah nisbi. Demokrasi adalah justifikasi pembohongan publik, demokrasi adalah menterorismekan suara keadilan, demokrasi menggilas nurani dengan undang-undang. Seperti kata seorang supir taksi yang harus menjalani proses panjang dan rumit pengadilan sebagai saksi tabrak lari.

Aku tak mau diam. Aku tak akan bisa berdiam diri. Harus ada yang kulakukan. Harus…

Advertisement

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.