jump to navigation

Sekolah Laut January 24, 2012

Posted by Toufan Sougi in From Here We Begin and at Al Aqsha We'll Meet.
trackback

Tarempa, 27 September 2011
Pagi ini aku bersiap melakukan cek fisik dua buah pengadaan penambahan konstruksi ruang kelas. Konstruksi pertama ada di suatu daerah yang bernama Air Asuk. Air Asuk merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Dan yang pasti sesuai dengan bayangan kita, tidak ada listrik, susah air dan seterusnya. Di Air Asuk ini terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri, yang bertempat di atas sebuah bukit, nanti kita akan sedikit bagi-bagi cerita disana. Tempat kedua adalah Air Tang, disini juga terdapat sebuah proyek pengadaan yang harus aku cek, sebuah konstruksi penambahan ruang kelas. Air Tang juga merupakan salah satu dari 268 pulau di kepulauan Anambas yang sedikit terluput dari deru pembangunan.

Pukul 08.00, selesai sarapan aku mulai menyusun perlengkapan untuk dibawa cek fisik nanti. Meteran, sigma, papan alas, kontrak, alat tulis dan lain-lain. Tak lupa kumasukkan lifejacket, sungguh benda yang satu ini aku tidak pernah berharap memakainya. Aku merasa cukup nyaman dengan sepatu lars standard kopasus ini, sepatu yang sebenarnya kubeli untuk main airsoftgun ternyata punya manfaat lebih, sepatu ini jadi teman setia dari sekian banyak cek fisik yang sudah kulakukan. Dan aku juga cukup merasa nyaman dengan pakaian outdoor ini, yang lagi-lagi memang pakaian airsoft. Alhamdulillah, banyak dari perlengkapan airsoftgun memberi manfaat lebih untuk pekerjaanku. Tas punggung kapasitas 60 kg lengkap dengan rain coat terisi penuh dengan perlengkapan cek fisik. Yap, aku siap berangkat.

Sesaat sebelum kami berangkat bertiup angin yang cukup kencang, terdengar bunyi gemuruh barang-barang berserakan di luar penginapan. Aku pergi ke jendela melihat keluar, ternyata angin memang cukup kuat, dahan dahan kayu bergoyang kuat, dan aku mendengar rak piring terbanting. Sempat berpikir perjalanan akan gagal.
Kurang lebih satu jam kami menunggu akhirnya cuaca mulai bersahabat, angin mereda, dan ombak di tepi pantai berangsur tenang walaupun masih berbahaya untuk melakukan perjalanan laut. Kami putuskan berangkat. Dengan sepeda motor aku menuju pelantar (sebuah dermaga kecil) terdekat. Melintasi tebing terjal kami pacu sepeda motor. Beberapa saat akhirnya kami sampai di pelantar. Pemandangan yang mengagumkan, pulau-pulau, lautan, kapal tradisional semuanya mengagumkan, sebuah komposisi sempurna penghibur hati. Buatku keadaan tenang, suasana ramah, dan pemandangan yang alami merupakan salah satu kenikmatan yang luar biasa. Sedikit sekali orang yang mampu merasakan hal ini, dan aku sangat bersyukur mendapat kesempatan seperti ini.

Kemudian aku memarkir motor, aku berjalan ke tepi dermaga. Sambil tersenyum kupandangi gemulai laut yang menawan ini. Aku pandangi kapal-kapal nelayan tradisional yang bersandar, sepertinya mereka baru berlabuh dan menurunkan muatannya. Kurang lebih setengah jam, kapal jemputan kami tiba. Kapal motor speed bertenaga 40 pk dengan kapasitas 6 orang. Kapal tersebut merapat perlahan ke pelantar. Setelah merapat kami turun ke kapal dengan hati-hati, karena tidak ada penghubung antara kapal dan pelantar, jadi kami meloncat begitu saja. Aku dahulukan tas punggung yang sudah dibungkus mantel hujan, kulempar saja ke dalam dari pinggir dermaga. Kemudian aku menyusul dengan sekali lompatan ke punggung kapal, dengan hati-hati aku masuk dan duduk di kursi tengah.

Beberapa saat kemudian kapal mulai melaju perlahan kemudian berangsur meningkatkan kecepatannya. Aku menikmati pemandangan laut dan pulau di kanan kiri, deburan ombak yang menghempas kapal semakin memberi kesan petualangan laut ini akan baru saja dimulai. Sungguh banyak hal yang jarang kita lihat disini, hidup di kota besar yang hiruk pikuk nya di atas deru mesin membuat kita melewatkan banyak hal indah di dunia ini. Aku memandangi lautan biru yang luas ini, kemudian merasa kecil, lemah, tak berdaya. Melihat hal-hal mengagumkan ini seakan menyentil akal kita, tentang sebuah penciptaan yang maha dahsyat, maha agung. Tidak ada yang mampu menjadikan gunung-gunung ini kokoh di laut, menjadikan awan-awan bergerak sesuai aturan kecuali pencipta yang luar biasa agung, Allohurobbul ‘alamin.

Kembali ke perjalanan, kurang lebih satu jam akhirnya kami sampai di suatu perkampungan di pinggir pantai. Di seberang perkampungan di pinggir laut itu ada sebuah pulau kecil yang letaknya agak tinggi. Dari perkampungan ke seberang di hubungkan sebuah jembatan dari timbunan batu. Dan di seberang tersebutlah SDN 003 Air Asuk berada. Segera kami menapaki jalan menuju sekolah tersebut. Disana ada dua ruang kelas, yang satu dipakai dan yang satu sedang dibangun. Dari luar jendela kelas kulihat sebuah kegiatan belajar mengajar, muridnya ada sekitar 15 orang dan sebagian besar putri. Mereka terlihat asing dengan kedatangan kami. Banyak dari mereka yang menolehkan kepalanya ke belakang kelas tempat pintu masuk dimana kami berkumpul. Kemudian aku tersenyum ke arah mereka dan menempelkan telunjuk di bibirku, mengisyaratka agar mereka tetap fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung. Sebagian dari mereka segera kembali berpaling pada pelajaran, sebagian tetap memandang ke arah kami. Aku memakluminya, itulah anak-anak mereka penuh dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Mereka polos seperti kertas putih, mereka terlahir dengan fitrah yang suci sebagai manusia, orang tua merekalah yang akan membentuk mereka. Terkadang aku miris melihat perlakuan yang tidak selayaknya diberikan kepada anak-anak. Tapi itulah dunia dan dinamikanya, selalu akan datang padamu hal-hal yang tidak bisa kau terima dengan akal sehatmu. Membuatmu harus berpikir dan memilih langkah, berpikir untuk memikirkannya atau bahkan tidak memikirkannya sama sekali.

Singkat kata aku melanjutkan pekerjaanku dengan hati-hati, aku berusaha tetap fokus pada pekerjaanku, tapi aku juga berusaha menjaga hak-hak mereka mendapatkan ilmu, memelihara situasi yang kondusif. Selama bekerja aku terus mendoktrin diriku, bahwa apa yang kukerjakan ini bukan sekedar pelunasan kewajiban atas upah yang terbayar, pekerjaan ini bagian dari masa depan anak-anak yang sedang belajar itu. Pekerjaan ini sedikit banyak bermanfaat untuk menjaga hak-hak mereka. Tanggung jawabku bukan sekedar kepada pimpinan dan instansi, tapi mereka yang di dalam itu. Untuk hak merekalah aku dibayar, untuk mereka aku harus menulis seadil-adilnya, untuk mereka aku harus menekan semua kepenatan dan kelelahan ini. Dan kelak Alloh akan mempertanyakan setiap detik yang kulalui disini. Terus kucamkan itu dalam benakku. Sekitar Empat puluh lima menit kemudian pekerjaan selesai. Aku bergegas menyusun kembali peralatan ke dalam tas, aku menyusunnya di depan ruang kelas di bawah jendela. Sebelum barang-barang kukemasi ternyata kelas sudah usai. Anak-anak secara tertib ke luar ruangan kelas menyalami guru-guru yang ada di depan kelas. Aku sedikit takjub ketika semua dari mereka beriringan menyalamiku. Sederhana, lucu, tapi sangat menghiburku. Kemudian mereka turun menyusuri tebing menuju jembatan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing di kampung seberang. Dari kejauhan kupandangi mereka, kuhela nafas sambil menyimpan senyum untuk diriku sendiri. Mereka mungkin saja jadi generasi penerus yang akan memperbaiki negeri ini dalam hati aku berucap. Segera kuambil handphone dari saku, kuambil gambar momen penting itu.

Perjalanan tahap pertama ini selesai, pekerjaan berikutnya menanti kami di seberang. SDN 002 Air Tang itulah tujuan kami berikutnya. Kami naik perahu motor, kemudian melanjutkan perjalanan. Sekitar dua puluh menit kami sampai di lokasi kedua. Sesampainya disana aku sedikit terkejut, karena melihat sebuah bangunan sekolah di pulau yang lebih terpencil. Kapal kami merapat ke salah satu rumah warga disana. Di pintu rumah nampak seorang lelaki paruh baya yang dengan wajah nya ramah menyambut kedatangan tamu yang tak dikenalnya ini. Kami memohon izin untuk menyandarkan kapal di rumahnya. Sambil tersenyum dia mempersilahkan. Kemudian kami naik ke rumah panggung bapak ini, menuju samping rumah, sekali lagi kami mohon izin menggunakan tempatnya untuk makan siang. Lagi-lagi dia tanpa menanyakan apapun mempersilahkan dengan ramah. Inilah salah satu hal yang membuatku jatuh cinta dengan tempat ini, keramah tamahan penduduknya yang sangat jarang kita jumpai di perkotaan besar padat penduduk. Kamipun menggelar makanan di samping rumah yang berhadapan dengan laut lepas. Makan siang sederhana ini terasa begitu nikmat, dengan lauk ikan tongkol dan bumbu khas Padang kami lahap makanan ini. Setelah selesai makan kami melihat jarum jam dan seakan saling mengingatkan bahwa ini jadwal shalat dzuhur. Kami pun mohon izin menunaikan kewajiban kami sebagai seorang muslim di tempat bapak ini. Alhamdulillah, sejauh ini aku sangat merasakan bahwa sholat ini lah yang terus mengingatkanku tentang statusku sebagai seorang hamba Alloh. Ada perasaan cemas ketika adzan berkumandang sedangkan aku tidak bisa memenuhi panggilan sholat itu secara berjamaah. Bapak pemilik rumah mempersiapkan ruang dan sejadah untuk kami sholat, beliau juga memperkenankan kami menggunakan air untuk berwudhu. Padahal sepanjang pengetahuanku, daerah ini kesulitan air bersih, tapi beliau memperkenankan air simpanannya untuk kami gunakan dalam jumlah banyak. Aku segan untuk masuk ke dalam rumah, jadi aku tetap di luar. Selain itu aku juga masih dalam wudhuku pagi tadi sebelum berangkat. Aku membiasakan diri untuk hal yang satu ini. Kalau-kalau ajalku menjemput tiba-tiba setidaknya, aku menghadap dengan keadaan bersuci. Tak lama kutunggu di luar rumah, seorang ibu memanggilku dari sebelah rumah. Beliau mempersilahkan aku berwudhu dengan air tampungannya di depan rumah. Akupun tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada ibu itu, kemudian aku menggunakan air itu untuk berwudhu. Ada tiga ember ukuran sedang, aku berhati-hati menggunakan air agar tidak terlalu boros tapi juga tetap syar’i. Selesai berwudhu kami menuju ruangan di rumah pertama, kami sholat berjamaah di dalamnya.

Setelah kami solat kami berpamitan untuk melaksanakan tugas kami, mengecek konstruksi penambahan ruang kelas. Menyusuri tanah merah kami berjalan beriringan. Setibanya disana aku meletakkan tas ku dan mengeluarkan peralatan yang digunakan. Tiba-tiba seorang bocah laki-laki menghampiriku. Dia melihatku dari dekat dengan penuh keingintahuaan, lalu aku menyapanya dengan senyuman, dia pun membalas dengan meringis. Dia melihat aktivitasku dengan saksama, dan aku pun mencoba membangun komunikasi dengannya. Kutanya “siapa namanya?”, “Fauzan.” Jawabnya sambil menggigit baju. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku. Fauzan terus saja berlarian di sekitar kami. Kemudian di sela pekerjaan, akupun menanyainya “Fauzan sekolah disini ya?”, “iya” jawabnya. Kemudian aku melontarkan beberapa pertanyaan sederhana sekedar untuk memberinya perhatian. Aku melanjutkan pekerjaanku kembali. Aku sibuk mencatat hasil pekerjaan, dan Fauzan kembali berlari mendekatiku. Akupun kembali bertanya “Fauzan kelas berapa?”, “Tiga” jawabnya pasti. Aku kembali bertanya,”rangking berapa di sekolah?”, Fauzan menggeleng “tak ada ranking.” Akupun mengangguk sambil tersenyum, kemudian kembali bertanya padanya “kalo juara ada?” sambil menggangguk dia menjawab “ada, aku juara umum.” Aku tertawa kecil mendengarnya. Anak-anak yang polos dalam hati kupikir. Dia tidak memamerkan pencapaiannya, dia juga tidak berusaha agar orang lain tahu pencapaian suksesnya, bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa itu adalah sebuah prestasi. Sangat kontradiktif dengan beberapa pejabat yang sering nongol di televisi, dengan rumus-rumus intelektual mereka mencoba memanggil decak kagum rakyat banyak dengan pencapaian yang seringkali diumumkan di media massa, globalisme mungkin menyebut ini” komunikasi politik” tapi aku lebih senang menyederhanakannya menjadi “Pembohongan Politik”, mereka yang lebih senang berjanji pasti lebih banyak mengingkari.
Akupun kembali melanjutkan pekerjaanku. Terus dengan saksama kucatat apa yang menjadi objek pemeriksaanku. Kemudian aku teringat membawa sebatang cokelat di saku jaket. Aku memeriksanya, dan mengeluarkannya. Fauzan dan seorang bocah laki-laki kembali berlarian di sekitarku. Aku memanggilnya dengan isyarat jari. Kemudian aku bertanya, “Itu adikmu?”, “Iya” jawabnya. Aku mengulurkan cokelat ke tangannya. Kurasa cokelat semacam ini jarang ditemui di pulau ini. Mudah-mudahan menghiburnya dalam hatiku berujar. Sambil malu-malu dia mengambil dan mengucapkan terima kasih. Kemudian dia bergegas lari ke adik kecilnya. Dia lari ke adiknya sambil mengacungkan cokelat itu, dan berteriak kegirangan. Pemandangan yang luar biasa untuk ku. Makhluk-makhluk mungil lucu yang selalu penuh dengan keceriaan. Kupandangi dari kejauhan mereka berdua memakan cokelat itu dengan lahap. Si adik malah lebih lucu, dia mengangkat cokelatnya tinggi dan memamerkan ke seseorang yang berdiri di dekatnya. Dia berteriak “makan cokelat, makan cokelat, haha..” Lucu, benar-benar menghibur. Aku pun kembali ke pekerjaanku. Setelah selesai Fauzan datang lagi mendekat. Aku kembali tersenyum dan mengemasi barang-barangku. Meninggalkan tempat yang sederhana ini menuju speed boat yang sudah menunggu. Aku kemudian berpamitan dengan bapak pemilik rumah tadi dan segera menuju tempat duduk di tengah. Muncul dialog imajiner ku dalam perjalanan pulang. Fauzan, cepatlah besar. Mungkin kelak kau menjadi bagian dari pembaharu negeri ini. Kau begitu polos dan penuh keriangan, penuh semangat. Jika kau menjadi presiden jadilah presiden yang meninggalkan politik pencitraan, politik riya. Jika kau jadi aparat penegak hukum, bertindaklah yang adil, dan ketahuilah keadilan itu milik Rabb mu, jadi takutlah padaNya. Negeri ini penuh dengan pengrusakan oleh orang-orang di dalamnya. Orang-orang yang mengambil hak orang lain secara tidak benar. Orang-orang yang mendzalimi orang lain. Orang-orang yang kepalanya terkurung oleh angan-angannya sendiri. Fauzan tetaplah menjadi seorang juara yang polos sebagaimana polosnya ombak yang menyapu tepian laut, lugas dan apa adanya. Fauzan ketika kau besar maka ingatlah bagaimana karang di tepi kampungmu ini memecah megahnya ombak, maka berjanjilah pada dirimu seberapapun besarnya gelombang kehidupan, seberapapun mewahnya godaan, tetaplah pada prinsipmu, lindungilah mereka yang harus dilindungi.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.