jump to navigation

Amandel Gadis Kecil Penjual Pisang January 24, 2012

Posted by Toufan Sougi in Repetisi.
trackback

“..Ai modar aku, ai modar aku.. Jerit si pasien merasa kesakitan,
ai modar aku ai modar aku jerit si pasien merasa diremehkan..” (Ambulan Zig Zag, Iwan Fals)

Rasanya lagu ini terngiang-ngiang di kepalaku, malam ini. Berawal dari seorang bapak bersama anak kecil yang menawarkan pisang. Lalu aku bersama seorang teman berhenti menghampirinya, menanyakan berapa harga pisang itu. Kemudian si bapak menjawab, “terserah saja dik mau bayar berapa.” Kami keheranan dan beberapa kali mendesak menanyakan berapa harganya, namun jawaban yang sama masih terlontar dari bibir kering si bapak. Di akhir jawaban si bapak menyelipkan kata-kata “ini sekedar untuk membeli obat.” Akupun mulai merasa ingin tahu lebih jauh.

Kemudian aku bertanya lagi “memangnya sakit apa pak?” lalu si bapak menjawab, “ini amandelnya kata dokter harus dioperasi” sambil memegang rahang sang anak perempuan, dan si anak membuka mulutnya. Akhirnya akupun duduk di sebelah si bapak, di pelataran sebuah mall. Aku tanyakan lagi padanya, sudah berapa lama sakitnya, diapun menjawab “1 bulan, saya takut dia demam lagi trus step”, kemudian saya terus berdialog dengannya tentang keadaan anak perempuannya.

kemudian aku bertanya padanya, “bapak kerja dimana?”, “di kebun, ini saya baru pulang” sambil memperlihatkan tangannya yang penuh dengan luka gores yang masih segar. Kemudian kami berbicara tentang keadaan sehari-hari dia yang cukup memprihatinkan. Dia juga sempat bercerita tentang dua orang anaknya yang tewas saat tsunami. Rasanya aku tak sanggup mendengar cerita bapak renta ini lagi, tapi aku merasa harus ada seseorang yang mendengarkan keluh kesahnya.

Lanjut dia bercerita kisahnya tentang cintanya terhadap gadis mungil buah hatinya ini. Dia pernah ditawari seseorang yang mau mengasuh anaknya, “tapi saya tak mau menyerahkan anak ini, saya khawatir dia disuruh menjadi pengemis”

Kemudian dia melanjutkan ceritanya, “saya pernah bawa dia ke rumah sakit, kemudian pihak rumah sakit menyuruh saya membuat surat keterangan miskin dengan membubuhkan tanda tangan walikota.” Aku terkejut mendengarnya, setahuku surat keterangan miskin untuk berobat tidak harus sampai meminta tanda tangan walikota. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, “Kemudian saya datangi kantor walikota, saya bertemu polisi penjaganya, dia mengatakan pak Wali sedang tidak bisa diganggu. Dia menyuruh saya datang lagi besok.” kemudian si bapak ini mengulang usahanya menemui lagi pak Wali sesuai dengan saran si penjaga. Dan kali ini si penjaga menanyakan apakah si bapak sudah punya janji atau belum. Polos saja bapak tua ini mengatakan “belum”. Dan pastilah kita tahu bagaimana kelanjutannya. Dia bercerita padaku “Saya datang gak minta uang, saya cuma mau minta tanda tangan, atau kalau perlu biar anak saya ini ditahan pak Wali sampai saya bisa melunasi pembayaran dengan rumah sakit, mungkin saya akan pulang kampung, dan menjual apa yang bisa saya jual untuk menebus dia asal anak saya sembuh.”

Malam makin larut kerumunan orang yang menunggu mobil jemputan di pelataran parkir mall makin banyak, tak sedikit dari mereka yang memperhatikan kami. kemudian saya menanyakan alamat, atau nomor telepon yang bisa dihubungi. Tapi bapak itu menjawab bahwa dia tidak punya telepon, dan alamat rumahnya pun tidak ada karena jauh dari pusat kota. Akhirnya aku meninggalkan nomor handphone aku minta bapak ini menghubungiku minggu depan. Kemudian aku menanyakan apa dia bisa menghubungiku, lalu dia menjawab “nanti saya minta tolong seorang teman, saya biasa kalau pusing minum kopi bersamanya” aku tambahkan “asal bapak ga mabuk-mabukan aja” dia memotong kalimatku dengan jawaban “Allohuakbar, tak boleh lah” sambil memegang peci lusuhnya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sebelum aku pergi si anak menunjuk ke sebuah toko makanan di belakang, ternyata dia berisyarat minta dibelikan nasi, kemudian si bapak menyerahkan gumpalan lusuh uang kertas. Kemudian si anak bergegas ke toko. Keluar toko dengan membawa bungkusan, si anak duduk lagi di samping bapaknya hendak membuka makanannya. Tapi si bapak melarangnya, “Jangan makan disini, kita bukan pengemis, kita bukan gelandangan, bapak malu.” Rupanya bapak ini berkeras dengan dirinya tak mau dianggap pengemis, walaupun penampilan mereka mengatakan lain.

Sebelum meninggalkan mereka aku memegang pipi si anak yang ternyata memang agak demam. Kemudian aku menanyakan namanya, dan bapak itu mengucapkan terima kasih pada kami.

Memang tak sepatutnya dengan hal ini kita mencerca seorang pemimpin atau sekelompok orang berkuasa, ini bukan alasan yang tepat untuk menggunjing seseorang, tapi terlintas di benakku. Kisah seorang pemimpin umat yang namanya menggetarkan Kisra dan Romawi. Umar bin Khattab radhiallohuanha, saat seorang yahudi datang menuntut keadilan karena gubuknya digusur untuk sebuah pembangunan masjid. ketika si yahudi bertanya “aina Umar amirul mukminin?” (“diamanakah Umar sang pemimpin itu?”) ternyata beliau sedang tertidur di bawah sebuah pohon. Sangat mudah ditemui, sangat dekat dengan rakyat. Ketika yahudi itu menuntut keadilan dari beliau, Umar mengambil sepotong tulang lalu dengan pedangnya dibuatlah sebuah garis lurus di tulang itu, kemudian Umar menyuruh yahudi itu menyampaikannya ke gubernur yang bertanggungjawab atas penggusuran rumah yahudi itu. Dan akhirnya tempat tinggal yahudi selamat dari penggusuran.

Semoga tangan-tangan di atas itu cepat mengulurkan bantuannya pada kami, dan sesegera mungkin kami bantu bapak dengan gadisnya ini.

Advertisement

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.